#KIPER(kajian peristiwa) Himpunan Mahasiswa Pendidikan Sejarah 2017

Dinamika Transportasi Umum Indonesia

Oleh : Aris Wahyudi, S.Pd.

Transportasi merupakan salah satu kebutuhan yang tidak dapat lepas dari kehidupan manusia. Awalnya, wujud alat-alat transportasi masih sangat sederhana yaitu ditarik dengan tenaga manusia, ditarik menggunakan hewan, muncul sepeda, hingga alat transportasi bermesin seperti trem dan kereta api.

Di Jawa, alat transportasi yang ditarik hewan seperti dokar, cikar, dll banyak digunakan sebelum masuknya trem dan kereta api. Sejarah perkeretaapian Indonesia dimulai dari pembangunan rel pertama Semarang-Tanggung pada 17 Juni 1864 di Semarang. Pada tahun yang sama pula dimulailah pembangunan jalur kereta api dari Semarang ke Surakarta dan Yogyakarta dengan memanfaatkan penduduk pribumi untuk kerja rodi. Jalur yang dibangun pertama kali adalah jalur Semarang-Vorstenlanden, yang dibuka untuk umum pada tahun 1873 dan bertujuan untuk memudahkan pengangkutan gula dari perkebunan ke pabrik.

Selanjutnya, pembangunan jalur jalur kereta api pun merambah ke daerah yang memiliki potensi sumber daya alam yang baik. Untuk itu, dibangunlah jalur Yogyakarta-Brosot yang dilakukan dalam dua tahap yaitu jalur Yogya-Srandakan dan kemudian jalur Yogya-Brosot. Seperti di Yogyakarta, jalur trem pun dibangun di Banyumas yang akhirnya tidak hanya digunakan sebagai angkutan hasil perkebunan namun juga sebagai angkutan orang. Pada sekitar tahun 1905, pemerintah Hindia-Belanda melakukan survei dalam 10 hari, dalam rentang waktu tersebut rata-rata orang yang menggunakan trem mencapai 1610 orang, jumlah yang cukup banyak pada masa itu.

Pada masa pendudukan Jepang, banyak rel-rel yang dirusak dan diangkut oleh orang-orang Jepang untuk dijadikan bahan senjata. Adapula pendapat yang mengatakan bahwa rel-rel tersebut dibawa ke negara Myanmar dan Vietnam. Rel tersebut digunakan untuk membangun jalur kereta api di negara-negara yang terlibat Perang Dunia II secara tidak langsung.

Kini, zaman sudah semakin modern. Munculah berbagai transportasi umum, salah satunya ojek. Ojek sendiri memiliki sejarah baik dari asal kata maupun perkembangannya. Awalnya, ojek beroperasi menggunakan sepeda, hingga kini sudah memakai sepeda motor. Saat itu penumpang bisa memilih untuk diboncengkan pemilik ojek ataupun mengemudikan sendiri, tentunya tarifnya pun berbeda. Namun, sampai hari ini ojek belum mempunyai payung hukum.

Masalah transportasi di masa modern ini adalah tentang timbulnya kemacetan karena pertumbuhan kendaraan yang pesat terutama di kota-kota besar, seperti Yogyakarta. Masalah tentang angka kecelakaan yang tinggi pun sering terjadi. Apalagi, setelah munculnya transportasi yang berbasis online masalah seolah semakin menjadi masalah. Sopir ojek konvensional merasa seolah hadirnya ojek online merebut pelanggannya dan mengakibatkan pendapatannya menurun. Konflik tentang ojek ini menjadi dinamika tersendiri bagi transportasi umum di Indonesia.

[1] Alumni Mahasiswa Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s