Sosok Putih Dalam Perjalanan Gerilya Jenderal Soedirman

Kisah perang gerilya melawan penjajah Belanda yang dilakukan oleh prajurit Tentara Nasional Indonesia di bawah kepemimpinan Panglima Besar TNI Jendral Soedirman. Sudah menjadi legenda dan bacaan wajib bagi para siswa di Indonesia. Merupakan kisah yang inspiratif dan membangkit semangat sebuah perjuangan.

Jenderal soedirman saat bergerilya ketika itu menderita sakit parah. Dengan hanya sebalah paru-paru yang berfungsi, ia memimpin perlawanan pasukan TNI melawan militer Belanda yang dari segi persejataannya lebih lengkap dan modern. Menurut penuturan mantan pegawai Jendral Soedirman di perang kemerdekaan, Letjen TNI Angkatan Darat (purn) Tjokropranolo, perjuangan Jendral Soedirman saat itu memang berat. Dengan ditandu karena semakin parah penyakitnya, beliau tetap bergerilya keluar masuk hutan, naik turun bukit, serta menyusup ke perkampungan. Sementara kota-kota besar di Jawa dikuasai militer Belanda, sehingga Jendral Soedirman menghindari kawasan tersebut. Jika bukan karena tekad yang bulat, keyakinan penuh pada tujuan perjuangan, dan iman yang kuat mungkin banyak orang lebih memilih untuk menyerah saja.

Pada Januari 1949, pasukan Belanda masih di Indonesia. Mengepung konsentrasi gerilya Jendral Soedirman. Pada saat itu beliau adalah orang yang paling dicari oleh tentara Belanda. Para pengawalnya pada saat itu sangat berhati-hati dalam bergerak agar posisinya tidak diketahui Belanda. Mungkin saja ada mata-mata atau informan yang disebar di desa-desa oleh Belanda untuk melacak keberadaan Jendral Soedirman. Ketika para kelompok gerilyawan hendak memotong jalan Ponorogo-Trenggalek pada 26 Januari 1949, Tjokropranolo seperti biasa terlebih dahulu mencari seorang penunjuk jalan. Oleh penduduk daerah itu, Tjokropranolo diperkenalkan pada seorang penunjuk jalan bernama Putih. Mula-mula Tjokropranolo merasa aneh, mengapa justru orang berperawakan kecil dan berkulit putih itu yang dipilih sebagai pemandu. Sedangkan di sekeliling dia banyak orang lain yang postur badannya besar dan kokoh. Dalam perjalanan antara Desa Gunungtukul ke Desa Ngideng, si Putihlah yang menjadi pemandu. Si Putih ini orangnya memang sedikit aneh, tetapi perangainya lembut dan gerakannya lincah.

Di Ngideng, rombongan gerilya Jendral Soedirman beristirahat di rumah seseorang yang cukup berada dan rombongan ini dilayani dengan baik dan dipersilahkan menginap dirumah itu. Tidak jauh dari rumah tersebut, terdapat sungai yang airnya cukup deras. Sehingga banyak yang lebih senang mandi dan buang air di sungai daripada di sumur. Disini, Tjokropranolo merasa curiga terhadap si Putih. Karena dia tidak mau mandi bersama para rombongan gerilyawan ia malah memilih mandi di tempat yang jauh. Tjokropranolo pun memerintahkan seorang anggota rombongan Mustafa mengikuti si Putih. Ia khawatir si Putih sudah tahu siapa yang ditandu dan takut membelot kepada Belanda serta melaporkannya yang tengah berada di Ponorogo.

Setelah mengamati si Putih, Mustafa dengan tertawa lebar melaporkan kepada Tjokropranoto bahwa si Putih adalah seorang wanita yang bertabiat kelaki-lakian atau tomboy. Kendati Tjokropranolo tidak mengira telah dituntun oleh seorang waria, namun dia mengakui peranannya. “Sungguh tidak mengira kita selamat”. Konon menurut cerita, di daerah Ponorogo pada masa lalu memang ada anak laki-laki (gemblak) yang mempunyai sifat kewanitaan yang memang disenangi oleh para Warok. Bagi pembaca yang memahami budaya Reog Ponorogo tentunya bisa memahami hal ini.

Nama : Gossy cahya P

Kelas : Pendidikan Sejarah 2015 B

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s